Rukun dan syarat Jual Beli

Posted on 17 July 2009. Filed under: Ekonomi Syariah |


Dalam pelaksanaan jual beli, minimal ada tiga rukun yang perlu dipenuhi.
a. Penjual atau pembeli harus dalam keadaan sehat akalnya
Orang gila tidak sah jual belinya. Penjual atau pembeli melakukan jual beli dengan kehendak sendiri, tidak ada paksaan kepada keduanya, atau salah satu diantara keduanya. Apabila ada paksaan, jual beli tersebut tidak sah.
b. Syarat Ijab dan Kabul
Ijab adalah perkataan untuk menjual atau transaksi menyerahkan, misalnya saya menjualmobil ini dengan harga 25 juta rupiah. Kabul adalah ucapan si pembeli sebagai jawaban dari perkataan si penjual, misalnya saya membeli mobil ini dengan harga 25 juta rupiah. Sebelum akad terjadi, biasanya telah terjadi proses tawar menawar terlebih dulu.
Pernyataan ijab kabul tidak harus menggunakan kata-kata khusus. Yang diperlukan ijab kabul adalah saling rela (ridha) yang direalisasikan dalam bentuk kata-kata. Contohnya, aku jual, aku berikan, aku beli, aku ambil, dan aku terima. Ijab kabul jual beli juga sah dilakukan dalam bentuk tulisan dengan sarat bahwa kedua belah pihak berjauhan tempat, atau orang yang melakukan transaksi itu diwakilkan. Di zaman modern saat ini, jual beli dilakukan dengan cara memesan lewat telepon. Jula beli seperti itu sah saja, apabila si pemesan sudah tahu pasti kualitas barang pesanannya dan mempunyai keyakinan tidak ada unsur penipuan.
c. Benda yang diperjualbelikan
1) Barang yang diperjualbelikan harus memenuhi sarat sebagai berikut.
2) Suci atau bersih dan halal barangnya
3) Barang yang diperjualbelikan harus diteliti lebih dulu
4) Barang yang diperjualbelikan tidak berada dalam proses penawaran dengan orang lain
5) Barang yang diperjualbelikan bukan hasil monopoli yang merugikan
6) Barang yang diperjualbelikan tidak boleh ditaksir (spekulasi)
7) Barang yang dijual adalah milik sendiri atau yang diberi kuasa
Barang itu dapat diserahterimakan

About these ads

Make a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

3 Responses to “Rukun dan syarat Jual Beli”

RSS Feed for Selalu Berbagi di setiap waktu…..for DEWASA Comments RSS Feed

assalamu’alaikum..
pak sy minta ijin untuk copy bbrp artikel ekonomi syariah. terima kasih sblmnya

kalo semisal bertransaksi jual beli kotoran binatang (ayam/sapi/kambing) untuk kompos termasuk menyalahi rukun jual beli atau tidak.

Assalamu ‘alikum warahmatullahi wabarakatuh,
Kotoran hewan termasuk benda najis menurut pendapat mazhab Asy-Syafi’i. Sehingga tidak sah untuk diperjual-belikan. Namun menurut mazhab Hambali, kotoran hewan yang dagingnya halal dimakan, tidak najis. Sehingga kalau mau diperjual-belikan, hukum sah dan tidak mengapa.

Kebanyakan masyarakat kita di Indonesia berpaham mazhab Syafi’i yang menyatakan bahwa kotoran hewan itu najis. Sehingga tidak boleh diperjual-belikan. Lalu bagaimana solusinya, padahal kotoran itu justru dibutuhkan untuk dijadikan pupuk penyubur tanaman?

Sebagian ulama di negeri ini membuat solusi lain agar tetap bisa memanfaatkan kotoran, namun terhindar dari memperjual-belikannya. Caranya adalah dengan merubah akadnya. Akadnya bukan dengan jual beli, melainkan dengan akad upah penampungan atau upah pengumpulan.

Maka antara petani yang membutuhkan pupuk kandang dengan pemilik ternak yang menghasilkan pupuk melakukan akad di luar jual beli. Pihak petani memberi uang kepada peternak bukan sebagai uang pembelian kotoran hewan, melainkan sebagai uang jasa penampungan sementara kotoran hewan. Atau uang itu sebagai jasa pengumpulan kotoran itu. Yang penting bukan jual beli kotoran.

Dengan demikian, kotoran hewan tidak dijual tapi diberikan. Sedangkan biaya yang dibayarkan juga bukan uang pembelian, melainkan uang jasa penampungan sementara atas terkumpulnya kotoran itu selama beberapa waktu.

Sedangkan saudara-saudara kita yang bermazhab Hambali, tidak perlu repot-repot mengubah akadnya, lantaran buat mereka, jual beli benda kotoran hewan itu memang dibolehkan, lantaran buat mereka kotoran itu tidak termasuk najis.

Pendeknya, dalam mazhab itu, kotoran hewan yang dagingnya halal dimakan, tidak najis.

Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alikum warahmatullahi wabarakatuh,


Where's The Comment Form?

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: