Cesar atau Normal?

Posted on 28 June 2009. Filed under: Keluarga (Parent) |


prslnn
Kehamilan adalah pemberian Tuhan yang sangat berharga. Lalu bagaimana ibu hamil dapat memutuskan pilihan persalinan yang terbaik bagi dirinya: Cesar atau normal?

Saat ini, proses melahirkan secara Cesar diduga bukan karena indikasi medis, namun dipicu oleh faktor non-medis. Para ahli kesehatan berkampanye secara intensif untuk menekan jumlah kelahiran Cesar yang
bukan indikasi medis ini atau istilah lainnya non-emergency Cesarean section. Sebab, dampak kesehatan pasca operasi Cesar ini cukup berarti seperti infeksi, perdarahan, luka pada organ, komplikasi dari obat bius dan bahkan kematian.

Untuk itu, para ahli dari The Public Health Research Group di dalam majalah Newsweek edisi Desember 2000 telah menentukan batasan persentase Cesar yang diperbolehkan: 15 persen. Di atas angka tersebut, diduga terjadi penyimpangan indikasi dari medis ke arah non-medis. Dengan batasan tersebut, dapat dinilai apakah di suatu pelayanan kesehatan atau di masyarakat, persentase Cesar masih dalam wajar atau tidak.

Berapa persentase melahirkan Cesar di Indonesia dan negara lainnya? Di Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Cipto Mangunkusumo (RSUPNCM), Jakarta, menurut laporan tahunan bagian Instalasi Gawat Darurat, sepanjang 2000, di antara 100 orang ibu melahirkan, terdapat 30 ibu yang Cesar. Angka itu lebih rendah dibanding di Amerika Serikat (AS) dan Cina. Di AS, menurut Martin dan Hamilton dkk di dalam Natalitas Vital Statistics Report, Juli 2001, persentase Cesar mencapai 22,9 persen. Di Shantou, bagian selatan Cina, angka tersebut berkisar dari 11,05 – 29,9 persen, dari 1990 sampai 1997.

Persentase Cesar akan berbeda untuk rumah sakit pemerintah, rumah sakit swasta, dan rumah sakit pendidikan. Di rumah sakit swasta cenderung lebih tinggi ketimbang rumah sakit negeri dan rumah sakit pendidikan. Di Hongkong, tulis Leung dan Lam dkk di dalam Birth, September 2001, Cesar di rumah sakit negeri dan swasta masing-masing 16,0 persen dan 43,4 persen. Di Thailand, Cesar di rumah sakit negeri, swasta, dan pendidikan, masing-masing 24 persen, 48 persen dan 22 persen (Chanrachakul dan Herabutya, dkk dalam Jurnal Obstetrics Gynaecology Research no.26 vol 5, Oktober 2000).

Menurut dr. Okky Oktavandhi, spesialis kebidanan dan kandungan di Rumah Sakit Internasional Bintaro, Tanggerang, Banten, persentase melahirkan Cesar di rumah sakit swasta ini sekitar 20 persen dan persalinan normal 80 persen. Angka tersebut lebih rendah dari Cesar di rumah sakit rujukan nasional di Indonesia seperti RSUPNCM yang mencapai 30 persen. Perbedaan tersebut lebih disebabkan faktor jumlah pasien rujukan.

Apakah ibu hamil menginginkan Cesar? Dari survei yang dilakukan terhadap ibu hamil yang akan melahirkan, ditemukan bahwa 93,5 persen ibu hamil menginginkan melahirkan secara normal. Survei yang dilakukan Gamble dan Creedy di beberapa rumah sakit di Australia, hanya 6,4 persen ibu hamil yang menginginkan melahirkan secara Cesar.

Keinginan sering berbeda dengan kenyataan. Meskipun sebagian besar perempuan menginginkan persalinan normal, data di lapangan menunjukkan bahwa persentase Cesar tetap tinggi. Faktor utama penyebabnya adalah indikasi medis. Marlin, 32 tahun, seorang ibu sudah menjalani Cesar di Rumah Sakit Mitra Keluarga, Jatinegara, Jakarta, sangat ingin merasakan mulas-mulas dan kontraksi layaknya seorang calon ibu yang melahirkan secara normal. Sayangnya, posisi sang bayi tidak memungkinkan melahirkan normal. Menurut dr., tali pusar si bayi melilit ke tubuhnya, dan tekanan darah sang ibu naik serta kakinya bengkak menjelang persalinan. Akhirnya, Marlin rela menjalani proses Cesar.

Dampak Cesar dan Normal

Menurut dr. Okky Oktavandhi, pada umumnya proses melahirkan Cesar atau normal tidak berdampak apapun terhadap pertumbuhan dan perkembangan bayi.Tetapi, bagi ibu sangat berpengaruh terhadap proses kelahiran selanjutnya. Ibu yang melahirkan Cesar harus membatasi jumlah kelahiran maksimal empat anak dan jarak antar anak satu tahun.

Apakah ada bahaya yang ditimbulkan bila seorang ibu melahirkan normal setelah sebelumnya melahirkan secara Cesar? Dalam dunia kedokteran, Vaginal Birth After Cesarean Section atau VABC menjadi perhatian tersendiri. Menurut majalah Newsweek, edisi Desember 2000, VABC dapat berbahaya. Bahayanya adalah timbulnya kerusakan di otak ibu (brain damage). VABC boleh dilakukan dengan syarat kelahiran diitangani oleh dr. ahli dan dengan peralatan medis yang memadai. Dengan demikian, jangan berharap melakukan VABC di rumah sakit yang tidak mempunyai syarat tersebut.

Penelitian yang dilakukan Appleton dan Targett dkk, seperti yang dimuat di Jurnal Obstetrics dan Gynecology, Februari 2000, membuktikan dampak VABC. Dengan menelusuri kasus VABC di rumah sakit bersalin dari Juli 1992 sampai Juni 1997, mereka mendapatkan 25,3 persen ibu hamil yang pernah melakukan Cesar, memilih melahirkan secara normal. Ternyata, mereka yang melahirkan normal setelah sebelumnya pernah melahirkan secara Cesar, mengalami ruptur (robeknya jaringan secara paksa) jaringan uterus (rahim) tanpa diikuti oleh kematian ibu, kematian bayi, disertai komplikasi pasca melahirkan yang serius pada ibu. Pada, sejumlah ibu harus dilakukan histerektomi atau pengangkatan rahim akibat komplikasi pasca melahirkan.

Lalu bagaimana dampak pada bayi dalam kasus Cesar? Menurut dr. spesialis anak dari Rumah Sakit Mitra Keluarga, Kemayoran, Jakara, dr. Mintardaningsih Sp.A, selama ini belum ada penelitian yang membuktikan adanya kelainan yang terjadi pada bayi dan anak yang lahir melalui Cesar. Menurut dr. yang mengambil spesialis anak di Universitas Indonesia ini, pertumbuhan anak dinilai dari dalam kandungan. “Jika dalam kandungan keadaan anak sudah bagus, maka pada waktu lahir juga bagus,” ujarnya.

Menurut dr. Mintardaningsih, Sp.A, pertumbuhan dan perkembangan bayi di dalam kandungan dapat dinilai dengan apgar. Nilai apgar yang tertinggi adalah 10. Bayi yang normal memiliki apgar lebih dari tujuh. Apgar merupakan penilaian tentang kondisi pernafasan, jantung, warna kulit, reflek bayi, dan kekuatan tangis. “ Bila anak lahir langsung menangis keras, warnah kulit merah, jantungnya bagus, maka nilai apgarnya 10. Tapi, jika anak baru lahir diam, warna kulitnya biru dan bukan merah, enggak bernafas, jantungnya berdetak satu-satu, maka bayi itu perlu penanganan resusitasi (pernafasan buatan dan masase jantung) dan nilai apgarnya kurang dari tujuh,” ujar Mintardaningsih, yang meraih gelar dr. umum dari Universitas Gajah Mada, Yogyakarta, ini.

Sama halnya pada proses kelahiran normal, pada kelahiran Cesarpun terdapat bayi dengan nilai apgarnya kurang dari tujuh. “Tetapi hal tersebut bukan dikarenakan Cesarnya, bisa saja karena proses kelahiran, jantung, atau anastesinya kurang bagus,” tambahnya. Pada dasarnya, lanjut dr. Mintardaningsih, Sp.A, bayi baru lahir akan mempunyai pertumbuhan dan perkembangan yang bagus bila dirawat dengan penuh kasih sayang dan orang tua tidak melakukan kekerasan kepadanya baik secara fisik maupun psikis.

”Pada waktu dalam kandungan, kita ajak ngomong dia, kita usap, kita dekap, kita goyang, maka si bayi akan merasakannya juga. Ini akan membuat si bayi merasa sangat disayang dan akan sangat membantu buat pertumbuhannya,” ujar dr. Mintardaningsih, Sp.A. Mengutip hasil penelitian yang dibuat PT Jhonson & Jhonson`s, Mintardaningsih mengatakan bahwa pijatan-pijatan kasih sayang yang dilakukan pada bayi baru lahir akan membuatnya menjadi lebih kuat minum, pertumbuhannya lebih cepat, dan lebih cerdas.

Pilih yang mana?

Keputusan memilih persalinan Cesar atau normal merupakan hak ibu hamil. Tapi, sebaiknya keputusan itu didasarkan pada pemahaman yang benar tentang risiko dan keuntungan di antara kedua metode tersebut. Tapi, satu hal yang tak boleh dilupakan, faktor biaya ikut menentukan pilihan itu.

Alasan Memilih Cesar:

1. Faktor kesehatan ibu dan bayi

a. Tingginya tekanan darah sang ibu

b. Kelainan jantung pada sang ibu

c. Kelainan tulang panggul pada sang ibu

d. Kelainan lainnya: sang ibu bermata minus tinggi

e. Varises di wilayah vagina

f. Air ketuban pecah duluan

g. Bobot bayi lebih dari empat kilogram

h. Posisi bayi sungsang

2. Faktor sosial

Sang suami cemas karena menganggap istrinya tidak bisa melahirkan normal

Sang suami beranggapan, kalau melahirkan normal, vagina istrinya menjadi longgar

Pasangan yang lama tak dikaruniai anak, begitu istrinya mau melahirkan, biasanya pasangan ini memilih persalinan Cesar

3. Faktor keyakinan dokter

Dokter tidak yakin dengan kondisi ibu dan bayinya untuk melahirkan secara normal

4. Faktor persepsi ibu hamil

Sang ibu kurang memahami risiko dan manfaat persalinan Cesar

Sang ibu terlalu beranggapan bahwa persalinan normal bukan selalu yang terbaik

45 Menit Prosedur Operasi Cesar

1. Selang kateter dimasukkan untuk menampung aliran urin.
2. Selang infus dipasang.
3. Diberikan antasid untuk menetralisir asam lambung.
4. Alat monitor jantung dan tekanan darah dipasang.
5. Anestesi dilaksanakan.
6. Daerah perut ibu hamil dan daerah rambut kemaluan di cuci dengan antiseptik.
7. Dokter melakukan sayatan (vertikal atau horizontal) pada perut ibu hamil.
8. Sayatan sekali lagi pada dinding rahim.
9. Ketuban dipecahkan.
10. Bayi diambil dari rongga panggul.
11. Bayi selesai dilahirkan; dengan menggunakan tangan, forceps atau vaccum untuk mengeluarkan bayi.
12. Pemotongan tali pusat.
13. Pemeriksaan kondisi bayi.
14. Plasenta dilepaskan dan dinding rahim dijahit.
15. Kulit dinding perut dijahit.
16. Operasi selesai dan sang ibu dipindahkan ke ruang pemulihan.
Laporan: Betty A. Sirait, Charles Tambunan, dan Onny Oktavia

Make a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d bloggers like this: