Menggemaskan Gelak Tawa Yang begitu Menggemaska

Posted on 28 June 2009. Filed under: Keluarga (Parent) |


tawa byi

Mengajak bayi tertawa tidak hanya akan membahagiakannya, tapi masih banyak lagi manfaatnya. Jadi yuk asah selera humornya!

”Ha…ha…Ma..ma, ha..hik..hik,” begitu tawa ceria Bagas (8 bulan) ketika melihat aksi ibunya yang
menjadi sapi sedang makan rumput sambil menyepak-nyepakkan kakinya. Waktu bermain dengan Bagas adalah saat yang begitu membahagiakan bagi Retno, sang ibu. Ia betah berlama-lama menghabiskan waktu bersama si kecil.

Soal ide yang bisa bikin Bagas tertawa, Retno memang jagonya. Dari bermain boneka tangan, meniru tingkah laku hewan hingga memberikan ekspresi muka yang aneh-aneh. Untuk itu ia rela melakukan apa saja, pura-pura berwajah cemberut, bersungut, atau menjadi nenek ompong yang bicaranya aneh.

Sayangnya, Retno jarang mengajak Irwan, sang suami ikut serta. Keruan saja Irwan jadi merasa “terganggu”. Tawa dan ekspresi Retno dan Bagas yang sangat lepas dan tampak bahagia, membuatnya sedikit cemburu. Ia sempat bepikir, apa sih pentingnya gelak tawa seperti itu? Demi menebus rasa penasarannya, Irwan mencari tahu manfaat tertawa bagi bayi dengan surfing di dunia maya. Ternyata hasilnya tidak sia-sia. Seorang psikolog Inggris, Richard Smale dari Bournemouth University menyatakan banyak manfaat yang dapat diperoleh dengan mengembangkan rasa humor pada bayi. Di antaranya, membantu perkembangan fisik bayi karena pada saat bayi tertawa paru-parunya akan mengembang dan menyerap oksigen lebih banyak. Hal ini dapat menstabilkan tekanan darahnya.

Masih merasa penasaran, Irwan pun menghubungi sahabatnya yang juga seorang psikolog di Lembaga Psikologi Terapan Universitas Indonesia, Indri Savitri, MSi. Menurut Indri, selain berdampak positif untuk perkembangan fisiknya, mengajak bayi tertawa juga bermanfaat untuk perkembangan emosinya. Si kecil akan lebih mampu mengungkapkan emosinya dalam merespons lingkungan. Katakanlah, ia akan langsung tertawa kala melihat boneka tangan lucu yang dimainkan oleh mamanya atau bayi mau tersenyum meskipun yang menyapanya belum ia kenal.

”Kegiatan bersama yang penuh tawa dan canda ini juga mampu mendekatkan hubungan antara bayi dengan sosok yang sering mengajaknya bercanda. Kehangatan juga terbentuk sehingga menciptakan rasa nyaman dan aman bagi bayi. Ini sangat bermanfaat untuk perkembangan emosinya kelak. Bayi yang memiliki perkembangan emosi yang baik, umumnya akan tumbuh menjadi anak yang kreatif,” tutur Indri.

”Oh..pantas Retno rela berlama-lama menghabiskan waktunya untuk tertawa dan bermain bersama Bagas,” gumam Irwan. Indri yang sempat mendengarnya langsung menegaskan, ”Kamu jangan mau ketinggalan dong. Luangkan waktu untuk tertawa bersama Bagas. Enggak perlu seharian seperti istrimu, tapi sempatkan waktu secara rutin setiap harinya. Asyik, kan bisa semakin dekat sama anak sekaligus juga memberi stimulasi.”

”Tapi bagaimana cara membuat Bagas tertawa, dia kan masih bayi?,” tanya Irwan. ”Caranya enggak sesulit yang kamu bayangkan kok. Nih, aku bikinin kegiatan yang bisa dilakukan orangtua sesuai dengan tahapan perkembangan bayi ya,” ucap Indri.

MEMBUAT BAYI TERTAWA

Indri pun mengambil secarik kertas dan membuat catatan ringkas tentang stimulasi yang dapat dilakukan sesuai dengan tahapan perkembangan bayi.

* Usia 0– 6 bulan

Bayi mulai senyum sosial pada usia 6 minggu. Mulai mengenali orang-orang yang sering berada di dekatnya, seperti ayah, ibu dan pengasuhnya. Ia pun mulai melemparkan senyum kepada orang yang sering dilihatnya tersebut. Reaksi gembira yang diikuti dengan tertawa keras mulai mampu dilakukan pada usia 3–4 bulan. Ini berkaitan dengan pita suaranya yang semakin kuat. Di rentang usia ini, bayi juga mulai mengekspresikan rasa gembiranya dengan teriakan seperti ”aaaaa” dan gerakan tubuh. Contoh, dengan menggerak-gerakkan tangan, menggoyang-goyangkan kepala dan tubuhnya ketika sedang duduk. Selera humor bayi 0-6 bulan masih terbatas pada suara-suara yang aneh atau gerakan yang dilakukan dengan berulang-ulang.

Stimulasi:

* Lakukan permainan petak umpet, caranya cukup sederhana, misalnya dengan bersembunyi di balik boks, sambil mengucapkan, ”Ayo cari papa, Sayang…” Diamlah sesaat di tempat itu, baru kemudian munculkan wajah dengan mimik gembira sambil berteriak, “Hai, aku di sini!” Teriakannya jangan terlalu keras ya karena justru dapat membuat bayi kaget dan menangis.

* Permainan tangkap sembunyi. Ibu/bapak menyembunyikan boneka, Teddy Bear, misalnya, di bawah selimut. Lantas tarik boneka tersebut dan angkat tinggi-tinggi. Jangan lupa tampilkan ekspresi gembira dengan tersenyum lebar. “Ooh…si Teddy Bear sudah kembali. Mau main sama Adek.”

* Gerakan memukul guling atau bantal sambil diiringi suara lucu. Umpama, mengajak bayi memukul “drum” batal/guling sambil menirukan suara drum, “Dum-dum…”

* Ciptakan permainan yang lucu dengan boneka tangan. Contoh, “Mbeeek…..kambing mau mencari rumput dulu. Ah, lapar nih…Nyam, nyam…” Lakukan dengan menggunakan suara aneh dan lucu.

* Usia 6–12 bulan

Bayi mulai melakukan kontak emosi dengan orang di sekitarnya. Bila ada yang mengajaknya bicara dan mengelitik tubuhnya, ia akan tertawa. Memasuki usia 8–9 bulan –saat kemampuan motoriknya semakin baik— reaksi gembiranya akan kerap diiringi dengan gerakan tubuh. Umpama, menggoyangkan kepala dan badannya sambil diiringi babbling (pengulangan), misalnya “wa…wa”. Pada rentang ini, bayi cenderung menyukai humor yang slapstick. Contoh, gerakan kita yang pura-pura terpeleset atau seolah-olah ingin menangkapnya.

Stimulasi:

* Gelitiklah telapak tangan atau kakinya dengan ujung jari tangan kita. Pasti itu akan mengundang tawa riangnya.

* Lakukan permainan interaktif, seperti cilukba, dengan ekpresi yang riang gembira.

* Tariklah bibir kita lalu cobalah bersuara maka akan terdengar suara yang aneh yang akan mengundang tawa bayi.

* Melakukan gerakan meniru. Contoh, gerakan kakek yang sedang berjalan dengan posisi bungkuk sambil menggunakan tongkat.

* Melakukan gerakan tiba-tiba seperti mau menangkap si bayi. Umumnya si kecil akan geli melihat kita melakukan itu.

* Buatlah boneka yang sedemikian rupa dapat menjulurkan lidahnya. Biarkan bayi menggerakkan tangannya untuk menarik lidah boneka tersebut. Lihatlah ekspresinya yang terkekeh-kekeh saat melihat lidah yang tiba-tiba menjulur keluar itu.

* Menirukan berbagai gerakan binatang yang lucu sambil melakukan atraksi konyol. Umpama. kuda yang sedang berjalan lalu tiba-tiba meloncat-loncat dengan mengangkat kaki diiringi suara ringkikan yang keras.

YANG HARUS DIPERHATIKAN

”Silakan dibaca baik-baik dan dipraktikkan ya… Tapi, ini bukanlah sesuatu yang baku. Kamu bisa kreasikan sendiri sesuai kemampuan dan kondisi Bagas,” saran Indri sambil menyerahkan catatannya. “Namun, ada beberapa hal yang sebaiknya diperhatikan ketika memberikan stimulasi kepada bayi. Jangan sampai bayi tertawa berlebihan. Contoh, sampai teriak keras-keras atau guling-gulingan yang buntutnya malah membuatnya marah atau menangis. Bila sudah mencapai tahap itu, segera hentikan guyonan dan tenangkan bayi. Terlalu banyak tertawa juga dikhawatirkan malah bisa mengundang muntah, atau malah terbawa hingga tidur dan membuat tidurnya tidak tenang.

”Kalau waktu memberikan stimulasi, kapan waktu yang paling tepat? Sepertinya, Retno tidak mengenal waktu. Kadang pagi, siang, sore. Apakah memang bebas?” tanya Irwan penuh rasa ingin tahu. ”Untuk waktu sebenarnya bebas. Namun sebaiknya, pilih waktu ketika anak sedang tenang dan kenyang atau siaga menerima rangsangan, alias sedang tidak mengantuk. Bila belum makan berikan makan terlebih dahulu. Kira-kira 15 menit kemudian, baru diberikan stimulasi. Pilihlah waktu di luar jam tidur si bayi.

Hal lain yang patut diperhatikan pula adalah temperamen bayi. Untuk bayi yang tergolong memiliki temperamen mudah, biasanya tidak sulit untuk memberinya stimulasi. Kalau hari ini berhasil, dijamin besok juga akan berhasil. Tapi, bayi sulit (difficult baby) dan “lama panas” (slow to warm up) sulit diprediksi. Bisa hari ini berhasil, besok gagal. Untuk itu orangtua harus sabar dan sedikit menurunkan intensitasnya bila dirasa gagal,” papar Indri panjang lebar.

”Wow… banyak sekali ilmu yang aku dapat nih. Aku janji deh, akan mencobanya. Aku mau tunjukkan ke Retno kalau aku juga mampu menjalin kedekatan dengan Bagas. Trims ya..,” kata Irwan menutup obrolan di sore yang cerah itu.

Sumber : http://www.tabloid-nakita.com/Utami Sri Rahayu.

Make a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d bloggers like this: