Pentingnya Silaturahmi

Posted on 28 June 2009. Filed under: Keluarga (Parent) |


“Siapa yang ingin diluaskan rezekinya dan dipanjangkan usianya, maka hubungkanlah tali silaturahminya,” (HR. Bukhari).

Kalau ingin banyak kawan, peliharalah silaturahmi dengan orang lain. Banyak sekali manfaatnya kalau menjalankan ajaran Islam. Diantaranya dengan silaturahmi dapat menghindari diri kita dari permusuhan, memperbanyak teman, memperpanjang umur, hidup rukun dengan tetangga dan masyarakat, dan masih
banyak lagi.

Selain itu, silaturahmi juga membuat tali persatuan dan persaudaraan semakin kuat. Begitu pentingnya rasa persatuan dan persaudaraan, Allah melarang manusia untuk bercerai berai dan saling bermusuhan. Allah berfirman: “Berpegang eratlah kamu sekalian dengan tali (agama) Allah, dan janganlah bercerai berai. Ingatlah kurnia Allah kepada kamu, ketika kamu dahulu bermusuh-musuhan, lalu dipersatukan-Nya hati kamu, sehingga dengan karunia Allah itu, kamu menjadi bersaudara. Kamu dahulu berada di tepi lubang neraka, lalu diselamatkan-Nya kamu dari situ. Begitulah Allah menjelaskan keterangan-keterangan-Nya kepada kamu, supaya kamu menempuh jalan yang benar,”(QS. Ali Imran [3]:103).

Rasulullah bersabda: “Tidak halal bagi seorang muslim manjauhi (memutuskan hubungan) dengan saudaranya melebihi tiga malam. Hendaklah mereka bertemu untuk berdialog mengemukakan isi hati dan yang terbaik ialah yang pertama memberi slam (menyapa),” (HR. Al-Bukhari).

Dalam menjalankan usaha atau bisnis, ternyata silaturahmi juga sangat penting. Slah satu manfaatnya, bisa memperluas rezeki sehingga usaha kita menjadi berkembang. Sebab, dengan menjaga dan membina silaturahmi, dalam dunia bisnis disebut networking (jaringan), membuat hubungan semakin dekat. Akhirnya kalau teman atau mitra punya peluang bisnis atau usaha akan mempercayakan kepada kita. Selain itu, silaturahmi pula dapat menghilangkan musuh yang bisa menjadi saingan dan menghambat usaha kita untuk maju.

Kartu nama yang suka diberikan kepada teman atau orang lain membawa berkah yang tidak disangka-sangka. Tiba-tiba misalnya, mereka sudah menghubungi untuk minta bantuan, dalam bidang konsultan. Benar apa yang diajarkan Rasulullah bahwa, “Silaturahmi bisa memperpanjang umur dan melapangkan rezeki.” Ini dirasakan betul oleh saya dalam kehidupan sehari-hari. Suatu ketika, saat pensiun, tapi pekerjaan malah bertambah banyak, seorang kawan berujar, “Itulah pentingnya silaturahmi, disitulah perlunya teman.”

Pertamina sendiri masih pernah memberikan kepercayaan kepada saya untuk mengajar mengenai manajemen SDM setelah pensiun. Pada tahun 1994 saya diminta mengisi seminar di PT El-Nusa, salah satu anak perusahaan Pertamina. Kebanyakan pesertanya engineer dan para profesional. Mereka mengusulkan istilah “karir kedua”, karena menurutnya, mereka setuju dengan istilah pra pensiun, tapi tidak senang disebut dengan pensiun. Karena mereka tetap ingin berkarir lagi, bukan di El-Nusa tapi di luar El-Nusa. Intinya, mereka tidak suka disebut pensiunan, karena tidak sedikit yang tetap punya kegiatan.

Akhirnya, sejak saat itu istlah karir kedua mulai saya populerkan. Ternyata, setelah direnungkan secara mendalam istilah Karir Kedua itu lebih positif dari pada istilah pensiun. Sebab, bisa untuk menggugah orang agar berkarir (mempunyai kegiatan/aktivitas, berusaha, dan berkarya) lagi setelah melewati usia pensiun. Dari sana, istilah kursus pun dirubah. Tidak lagi memakai istilah pra pensiun, tapi menggunakan Karir Kedua. Pre Retirement Course (PRC) menjadi Second Career Management (SCM Manajemen Karir Kedua).

Bekerja atau mencari rezeki yang halal memang diwajibkan setelah kita melakukan kewjiban yang fardhu, seperti shalat, zakat, dan puasa, walaupun sampai tua. Dalam sebuah hadis Rasulullah disebutkan: “Sesungguhnya ruhul Qudus (malaikat Jibril) membisikan dalam benakku bahwa jiwa tidak akan wafat sebelum lengkap dan sempurna rezekinya. Karena itu hendaklah kamu bertakwa kepada Allah dan memperbaiki mata pencaharianmu. Apabila datangnya rezeki itu terlambat, janganlah kamu memburunya dengan jalan bermaksiat kepada Allah karena apa yang ada di sisi Allah hanya diraih dengan ketaatan kepada-Nya,” (HR. Abudzar dan Al-Hakim).

Ada pendapat seorang ulama bahwa dalam hidup ini waktunya tiap hari dibagi 3, yaitu a). 1/3 untuk bekerja/mencari nafkah; b). 1/3 untuk istirahat dan tidur; c). 1/3 untuk keluarga, ibadah, masyarakat. Kalau merasa cukup kaya tak perlu uang, untuk yang pertama bisa sebagai relawan, atau gaji/honornya disumbangkan kepada yang membutuhkan, mengomersilkan atau memanfaatkan hobi. (Zar)
Sumber: Menjadi Tua Secara Kaffah Dengan Mustika Karir Kedua

Make a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d bloggers like this: