Aplikasi Urbun dalam Transaksi Ekonomi Syariah

Posted on 1 July 2009. Filed under: Ekonomi Syariah |


Definisi dari urbun adalah yang kita kenal dengan uang muka atau down payment. Para Ulama mendefinisikannya sebagai berikut:
1. Ibnu Qudamah mendefinisikannya sebagai transaksi di mana pembeli membeli komoditi dan meyetorkan sejumlah uang sebesar satu dirham atau lebih yang dalam pengertiannya disini, setoran uang tersebut adalah bagian dari pada harga jual apabila pembeli memutuskan untuk melanjutkan akad jual-belinya. Apa bila pembeli memutuskan untuk mundur (tidak melanjutkan akad) uang muka tersebut menjadi hak dari si penjual.
2. Ibn Rusd mendefinisikannya sebagai uang muka yang diberikan kepada si penjual dengan syarat kalau akad berlanjut, maka uang muka tersebut adalah bagian dari harga jual, atau kalau akad tidak berlanjut, uang muka menjadi hak si penjual.
3. Al-Ramli, mendefinisikan urbun sebagai suatu keadaan di mana seseorang membeli komoditi dan membayar sejumlah dirham, dengan syarat kalau ia melanjutkan akadnya, pembayaran di muka adalah bagian dari pada harga barang, jika tidak berlanjut, maka uang muka tersebut diberikan kepada si penjual sebagai hadiah.

Imam Malik dalam al- Muwata mendefinisikan urbun: ketika seorang lelaki membeli seorang budak atau menyewa hewan dan mengatakan kepada si penjual atau penyewa : “saya memberimu satu dinar/dirham dengan syarat kalau saya mengambil barang yang di jual atau di sewa, berapa pun jumlah yang telah saya bayarkan kepada mu, terhitung sebagai bagian dari harga yang saya bayar, seandainya saya tidak jadi meneruskan transaksi ini, maka, sejumlah uang yang sudah saya bayarkan kepadamu menjadi hakmu tanpa adanya kewajiban apa pun dari pihakmu kepada saya”.

Dari penjelasan Imam Malik tersebut dapat kita ketahui bahwa urbun tidak hanya digunakan pada transaksi jual-beli, namun dapat dilakukan juga pada transaksi sewa-menyewa.

Oleh karena itu ada beberapa aspeks yang dapat kita pahami dari beberapa definisi urbun di atas, antara lain:

1. Urbun dibayarkan sebagai tanda hak yang diberikan kepada pembeli untuk masa tunggu, apakah akan melanjutkan atau membatalkan kontrak/akad.
2. Masa tunggu ini tidak ditentukan batas waktunya.
3. Uang muka di anggap sebagai, pembayaran sebagian dari harga barang apabila pembeli ingin melanjutkan akadnya. Kalau tidak, si penjual boleh mengambil uang muka tersebut.
4. Skala dari urbun sangatlah luas dan tidak hanya dilakukan pada akad jual beli saja.

Jenis jenis Urbun

1. Uang muka yang diberikan oleh pembeli kepada si penjual atau pemilik barang yang akan dikontrakkan, di mana apabila pembeli atau pengontrak melanjutkan transaksinya, uang muka tersebut adalah bagian dari pada harga jual. Kalau si pembeli tidak ingin melanjutkan transaksi tersebut maka, uang mukanya harus dikembalikan lagi kepada si pembeli. Semua Ulama setuju dengan urbun jenis ini.
2. Uang muka yang diberikan kepada penjual, menjadi hak penjual, apabila pembeli menolak untuk melanjutkan transaksinya.

Legalitas dari urbun

Para ulama berbeda pendapat mengenai urbun jenis yang ke 2, dimana para ulama klasik dari mazhab Hanafi, Maliki, dan Shafi’i, Abdullah ibn Abbas, Hasan-al Basri. Al-Thawri, al-Awza’i, and al Layth ibn Sa’d, dan ulama kontemporer, seperti al-Shawkani, al-Siddiq Muhammad al-amin al-darir, al-shykh mujahid al-islami-al qasimimelarang praktek ini.

Sementara imam Hanbali, Umar ibn Khattab, anaknya Abdullah, Ibnu Sirin, Nafi ibn al-Harith dan Zayd ibn Aslam, mendukung urbun jenis ini, dimana uang muka yang diberikan kepada penjual menjadi hak milik si penjual apabila si pembeli membatalkan akad-jual belinya.

Tujuan dari Urbun

1. Untuk proteksi hak kepemilikan, dengan membayar uang muka (urbun) dengan harapan si penjual tidak akan menjual komoditi tersebut kepada orang lain.
2. Untuk memberi keleluasan atau tenggang waktu yang dijanjikan si pembeli untuk melunaskan pembayaran kepada si penjual.
3. Sebagai media untuk mengurangi resiko kerugian karena fluktuasi harga pasar.
4. Untuk mendapatkan keuntungan dari penjualan saham.

Aplikasi Urbun pada transaksi keuangan Syariah

Urbun dapat diaplikasikan pada transaksi jual-beli dan sewa menyewa komoditi/properti. Urbun dapat pula diaplikasikan pada activitas jual-beli saham/sekuritas. Urbun juga dapat diaplikasikan pada transaksi murabahah.

Urbun dapat digunakan sebagai pengganti option. Pada transaksi call option, uang muka dibayarkan sebagai premi option, dan apabila option holder ingin meneruskan untuk membeli sahamnya, option holder diharuskan membayar penuh harga saham tersebut, karena premi option tersebut tidak termasuk dalam harga sahamnya. (Nibra Hosen untuk pkesinteraktif.com)

Popular

* AKAR KRISIS KEUANGAN GLOBAL : BUBBLE ECONOMY DAN FENOMENA RIBAWI
* ALIF, Leasing Syariah Pertama di Indonesia
* Ekonomi Islam Bukan Hanya Bank Syariah
* Metode Ijtihad Ibrahim Hosen
* Wakaf dan Perwakafan di Indonesia

Opini

* Masjid Dan Kehidupan Sosial
* Flu Babi Adalah Salah Satu Alasan Mengapa Allah Mengharamkan Makan Babi

Hikmah

* Imam Sejati
* Nabi Ibrahim, Sarah, dan Raja Yang Dzhalim

Make a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d bloggers like this: