Fungsi Uang Dalam Ekonomi Syariah

Posted on 1 July 2009. Filed under: Ekonomi Syariah |


Fungsi uang dalam transaksi keuangan konvensional dan transaksi ekonomi syariah tidak sama prinsipnya. Pada prinsip ekonomi konvensional uang adalah sama dengan barang atau komoditi yang dapat dengan mudahnya di perjual-belikan dan di sewakan atau di pinjamkan dengan imbalan bunga atau Riba. Sedangkan dalam transaksi keuangan ekonomi syariah, fungsi uang adalah:

1. Sebagai alat pembayaran

2. Sebagai alat untuk menilai suatu barang

Di dalam prinsip ekonomi syariah, uang tidak boleh disamakan dengan komoditi atau barang, oleh karena itu uang tidak boleh (baca: haram) untuk disewakan atau di perjual belikan.

Tidak boleh disamakan dengan komoditi atau barang artinya adalah nilai dari pada uang tersebut tidak boleh berubah, disebabkan oleh bentuk lahiriyahnya. Artinya sejelek apa pun atau selecek apa pun uang yang ada pada kita nilainya tetap sama dengan yang baru di cetak. Misalnya: uang seribu rupiah cetakan terbaru dan yang jelek itu tadi nilainya tetap sama seribu rupiah juga , walau yang satu bagus dan yang lain jelek secara fisiknya.

Sementara itu pada komoditi atau barang, seperti mobil, nilainya tidak akan pernah sama tergantung keadaan fisik dan umurnya. Mobil terbaru keluaran tahun 2007 dan jenis dan merek dari pabrik yang sama keluaran tahun 1994 tentu harganya tidak mungkin sama walau pun jenis dan segala attributenya hampir sama. Oleh sebab itu, apabila kita menukar uang nominal besar dengan uang nominal kecil harus dalam jumlah yang sama juga ( selembar RP 10.000,- = 10 lembar RP 1.000,-), karena kekurangan atau kelebihannya masuk dalam katagori Riba.

Tidak boleh disewakan disini maksudnya: uang tidak boleh (baca: haram) dipinjam kan kepada pihak manapun pada kurun waktu tertentu dengan imbalan bunga, seperti yang terjadi pada pinjaman di dalam transaksi perbankan konvensional, di mana kalau kita meminjam uang dari bank kita harus mengembalikan pokok pinjaman ditambah bunga sekian persen dari jumlah pokok pinjaman. Bunga pinjaman tersebut adalah riba, dan riba adalah haram hukumnya.

Dalam hal tukar-menukar uang antara dua mata uang yang berbeda, transaksi penukaran tersebut harus di lakukan pada saat itu juga atau spot. Yang tidak boleh dilakukan adalah apabila sesorang menukar uang dalam mata uang US dollar dengan seseorang yang lainnya dengan mata uang rupiah, dimana orang tersebut memberikan dollarnya hari ini lalu dia menerima uang rupiahnya pada waktu yang akan datang misalnya dua hari kemudian, transaksi ini haram hukumnya dan termasuk dalam katagori riba, karena adanya penundaan waktu serah terima selama 2 hari.

(Nibra Hosen)

Make a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d bloggers like this: