Yang Pernah KPR Syariah

Posted on 2 July 2009. Filed under: Ekonomi Syariah |


RUMAH3ak
bagi beberapa kalangan, membeli rumah bukanlah perkara yang mudah. Untuk memilikinya diperlukan perjuangan yang cukup keras. (sumber:Kompas, 4/8/08)

Pernyataan di atas cukup beralasan karena sesuai dengan fakta yang saya temui dewasa ini. Saat ini, mencari sebuah hunian yang bagus, nyaman, dan accessible (halah opo kuwi..:)) dengan harga yang murah sangat jarang atau bahkan tidak bisa ditemukan di kota-kota besar seperti Jakarta. Seringkali saya melihat spanduk-spanduk atau
baliho-baliho yang menawarkan rumah yang menurut saya layak huni dengan harga yang menurut mereka (=pemasang iklan) itu “murah”. Padahal saat saya melihat nominalnya, rumah itu ditawarkan seharga Rp.400 juta. Murah dari Hongkong?(batin saya bergejolak). Saya sebagai calon PNS (ih…kePD-an) merasa lunglai. Bagaimana tidak, harga sekarang aja sudah Rp. 400 juta, apalagi harga 3 tahun lagi (rencana beli rumah..insyaAlloh) pasti bisa aja mencapai Rp. 600 jutaan. Duit dari mana coba buat beli rumah itu, apalagi dengan gaji PNS yang gak seberapa (katanya sih Rp. 5 juta/bulan sudah termasuk tunjangan). Walhasil, setelah dihitung-hitung kalo saya menabung Rp. 2 juta/bulan saya akan baru bisa membeli rumah itu sekitar 25 tahun lagi dan itu diasumsikan harga gak naik selama 25 tahun, padahal dalam kehidupan riil berlaku prinsip manajemen keuangan yaitu Time Value of Money (Nilai uang saat ini pasti lebih tinggi bila dibandingkan dengan nilai uang di masa depan).

Dalam kebingungan, saya baca lagi spanduk itu. Ternyata rumah tersebut bisa dibeli dengan KPR (Kredit Pemilikan Rumah) salah satu bank Konvensional terkemuka di Indonesia, sebut saja Bank X. Wah, saya jadi penasaran, apa itu KPR. Akhirnya, sampai di kos saya bolak-balik semua Koran yang tercecer di lantai ruang tamu (maklum temen kos saya kalo habis baca Koran sering lupa buat merapikannya lagi, untung ada CS kosan yang selalu siap antar jaga buat merapikan kosanku, salute to my CS…hehe). Setelah membolak-balik, akhirnya saya temukan artikel yang berkaitan dengan KPR itu. Tapi kok judulnya KPR Syariah? Apa lagi tuh? Saya makin tergelitik untuk membacanya.

Setelah membacanya dan sempat diulang sekali lagi, saya menyimpulkan bahwa meskipun namanya sama (KPR), tapi ternyata metode yang dipakai dalam KPR konvensional dan KPR syariah berbeda. KPR konvensional yang sering dipakai bank-bank konvensional selama ini, menerapkan prinsip pinjaman mendapatkan sebuah rumah. Jadi, calon pembeli rumah itu diberi pinjaman sejumlah dana untuk membeli rumah impiannya dan nantinya diwajibkan untuk membayar pelunasan pinjaman tersebut plus bunga dengan suku bunga mengambang (suku bunga tergantung pada suku bunga pasar) selama jangka waktu tertentu, biasanya sih 20 tahunan. Wah, saya jadi berpikir, suku bunga mengambang itu kan sangat labil, ya kalo iklim ekonominya cenderung stabil lha kalo kayak Indonesia yang serba gak pasti ini, bisa- bisa saya gak makan sebulan gara-gara buat bayar pinjaman KPR yang tiba-tiba membengkak gara-gara tingkat suku bunga yang melejit.

Lalu saya baca lagi KPR syariah. Sebelumnya yang saya tahu itu, bahwa di dalam prinsip syariah itu tidak boleh ada bunga karena termasuk riba’. Trus, apa hubungannya dengan KPR itu? Gimana mengatasi masalah tingkat suku bunga pasar yang cenderung tidak pasti itu? Ya, akhirnya saya mengerti. Ternyata KPR syariah tidak menerapkan prinsip pinjaman tetapi prinsip jual beli. Maksudnya? Begini, dalam KPR syariah, bank akan membeli rumah yang diinginkan nasabah kemudian dijual ke nasabah atau bisa juga disewakan ke nasabah hingga nasabah mampu membeli. Harga rumah memang terlihat lebih mahal saat di awal penandatanganan akad/perjanjian, namun akan terasa ringan saat membayar cicilannya. Hal itu dikarenakan cicilan dalam KPR syariah tidak mengandung tambahan bunga yang harus dibayar. Sehingga se-labil apapun tingkat suku bunga di pasar, maka resiko kerugian kita (karena harus bayar lebih mahal) selalu kecil. Jadi, dengan KPR syariah, kita gak perlu repot-repot ngurusi pergerakan tingkat suku bunga pasar hanya gara-gara takut nggak bisa melunasi cicilan rumah kita. Gitu aja kok repot…Betul?

Semoga artikel ini bermanfaat
(omongopo.com)

Make a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d bloggers like this: