Empat Hal Yang Sulit Dilakukan

Posted on 3 July 2009. Filed under: Ibroh |


Sahabat Ali r.a., pernah mengutarakan ada empat perkara yang sulit untuk diamalkan oleh manusia. Pertama, sulitnya memberi maaf ketika sedang marah. Ketika seseorang atau diri kita sedang marah, biasanya akan terucap bahwa kita tidak akan memberi maaf kepada siapa saja yang melakukan kesalahan kepada kita. Mungkin sabda Rasulullah Saw bisa kita jadikan renungan, sabda beliau ”Barang siapa yang menahan amarahnya, maka Allah akan menahan adzab darinya.” Dalam riwayat lain, disebutkan hadits dari Ibnu Mas’ud Radliyallahu ‘anhu Rasulullah bersabda : “Siapa yang dikatakan paling kuat
diantara kalian ? Shahabat menjawab : yaitu diantara kami yang paling kuat gulatnya. Beliau bersabda : Bukan begitu, tetapi dia adalah yang paling kuat mengendalikan nafsunya ketika marah.” (HR. Muslim)

Al Imam Ahmad meriwayatkan hadits dari Anas Al Juba’i , bahwa Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam bersabda : “Barangsiapa yang mampu menahan marahnya padahal dia mampu menyalurkannya, maka Allah menyeru pada hari kiamat dari atas khalayak makhluk sampai disuruh memilih bidadari mana yang mereka mau.” (HR. Ahmad dengan sanad hasan). Dan masih banyak hadits yang mengutamakan untuk menahan amarah padahal mampu atau memiliki kesempatan untuk marah.

Rasulullah Saw memberikan arahan tatkala seseorang sedang diselimuti oleh kemarahan, yaitu membaca ta’awudz ketika marah, kalau belum hilang juga dianjurkan untuk duduk dan jika belum hilang juga maka berbaringlah. Al Imam Ahmad dan Abu Dawud rahimahullah meriwayatkan hadits dari Abu Dzar Radliyallahu ‘anhu bahwa Nabi Shalallahu alaihi wasallam bersabda :
“Apabila salah seorang diantara kalian marah dalam keadaan berdiri duduklah, jika belum hilang maka berbaringlah.”

Hal ini karena marah dalam berdiri lebih besar kemungkinannya melakukan kejelekan dan kerusakan daripada dalam keadaan duduk. Sedangkan berbaring lebih jauh lagi dari duduk dan berdiri.

Selanjutnya menahan marah dapat dengan cara tidak bicara atau diam. Diam tidak berbicara ketika marah merupakan obat yang mujarab untuk menghilangkan kemarahan, karena banyak berbicara dalam keadaan marah tidak bisa terkontrol sehingga terjatuh pada pembicaraan yang tercela dan membahayakan dirinya dan orang lain.

Dalam hadits disebutkan :“Apabila diantara kalian marah maka diamlah.” Beliau ucapkan tiga kali. (HR. Ahmad)

Kemudian, dapat juga menahan marah dengan berwudhu. Sesungguhnya marah itu dari setan. Dan setan itu diciptakan dari api maka api itu bisa diredam dengan air, demikian juga sifat marah bias diredam dengan berwudlu. Sesuai dengan sabda Rausulullah Saw yang berbunyi: ”Sesungguhnya marah itu dari syaithan dan syaithan itu dicipta dari api, dan api itu diredam dengan air maka apabila diantara kalian marah berwudlulah.” (HR. Ahmad dan yang lainnya dengan sanad hasan)

Kedua, bermurah hati ketika fakir. Sangat sulit ketika kita sedang dihadapkan dengan kenyataan kesulitan keuangan tetapi kita diminta untuk bermurah hati atau memberikan bantuan kepada orang yang membutuhkan. Namun, justru jika kita bermurah hati ketika kita sedang kesusahan menjadi nilai tambah tersendiri. Karena, jika bermurah hati sedang berada kelapangan semua akan beranggapan bahwa wajar saja bermurah hati karena memiliki kelebihan. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Imam Ahmad, At-Tirmidzi dan Al-Hakim, Rasulullah bersabda,
“Temukanlah aku dalam orang-orang yang miskin. Sebab, satu-satunya alasan kamu ditambah nikmat dan dibantu dalam kemenangan adalah karena kemiskinanmu!” Dan dengan cara inilah Allah SwT akan menolong hamba-Nya yang sedang kesulitan, menambah rizkinya dan melapangkan jalannya dalam kehidupan sehari-hari. Maka bermurah hatilah meskipun ketika sedang fakir.

Ketiga, memelihara diri dari yang haram (iffah) ketika sedang sendiri. Biasanya godaan setan akan lebih besar ketika posisi kita sedang sendirian. Tidak ada yang melihat, tidak ada yang mengetahui sedang apa kita. Maka ketika posisi sedang sendiri kita mampu menahan keinginan-keinginan buruk akan mendapatkan ganjaran pahala dari Allah SwT dengan ganjaran yang setimpal.
Dan yang keempat adalah Mengatakan yang hak (benar), baik kepada orang yang diseganinya maupun kepada orang yang mengharapkannya. Pernah ada ungkapan yang cukup terkenal pada masa orde baru sebuah ungkapan ABS (Asal Bapak Senang). Selalu memberikan laporan yang hanya disenangi oleh orang yang memimpinnya, kepada atasannya, tidak mengungkapkan kenyataan. Termasuk ketika orang yang diseganinya itu, baik pimpinan, orang tua sedang dalam keadaan alfa harus mengatakan yang hak (benar). Sabda rasulullah Saw, “katakan yang hak (benar) walau terasa pahit.” Tidak jarang, ketika seseorang mengatakan sesuatu yang benar justru dikesampingkan, dikucilkan, disingkirkan sehingga banyak sekali orang yang tidak berani mengatakan hal yang sebenarnya. padahal di hadapan Allah SwT yang lebih baik adalah selalu mengatakan kebenaran walau kepada orang yang kita segani dan hormati. Semoga Allah SwT selalu memberikan kita hidayah dalam kehidupan sehari-hari. Amiin.

Make a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d bloggers like this: