Petikan Kisah Wahyu Terakhir Perpisahan Dengan Manusia Agung

Posted on 3 July 2009. Filed under: Artikel Islami |


Rabiul Awal dalam kalender Islam menjadi bulan yang amat istimewa bagi umat muslim di seluruh dunia, karena pada hari kedua belas di bulan itu, telah lahir sosok manusia agung, yakni Rasulullah Muhammad Saw. Beliau lahir hari Senin pada tahun yang disebut tahun Gajah atau bertepatan dengan 570 M. Beliau juga wafat pada hari dan tanggal yang sama pada 11 H/632 M. Petikan kisah berikut sekedar mengingatkan kembali tentang wahyu terakhir yang beliau terima dan kisah perpisahan sahabat dengan Nabi yang amat dicintai dan mencintai umatnya itu.

Diriwayatkan bahwa surah Al-Maidah ayat 3 diturunkan pada waktu sesudah ashar yaitu pada hari Jumat di Padang Arafah pada musim haji terakhir (wada’). Pada masa itu Rasulullah Saw berada di Arafah di atas unta. Ketika ayat ini turun Rasulullah tidak begitu jelas menangkap isi dan makna yang terkandung dalam ayat tersebut. Kemudian beliau bersandar pada unta beliau, dan unta beliau pun duduk perlahan-lahan.

Setelah itu turun malaikat Jibril as dan berkata: “Wahai Muhammad, sesungguhnya pada hari ini telah disempurnakan urusan agamamu, maka terputuslah apa yang diperintahkan oleh Allah SwT dan demikian juga apa yang terlarang olehnya. Karena itu kamu kumpulkan para sahabatmu dan beritahu kepada mereka bahwa hari ini adalah hari terakhir aku bertemu denganmu.”

Setelah itu, Jibril pergi, maka Rasulullah pun berangkat ke Mekah dan terus pergi ke Madinah. Setelah beliau kumpulkan para sahabat, maka Rasul pun menceritakan apa yang telah diberitahu oleh malaikat Jibril as. Ketika para sahabat mendengar hal yang demikian maka mereka pun gembira sambil berkata: “Agama kita telah sempurna. Agama kita telah sempurna.”

Namun Abu Bakar ra., malah tidak dapat menahan kesedihannya maka ia pun kembali ke rumah lalu mengunci pintu dan menangis dengan kuat. Abu Bakar menangis dari pagi hingga malam. Melihat hal itu, maka berkumpullah para sahabat yang lain di hadapan rumah Abu Bakar r.a., dan mereka berkata: “Wahai Abu Bakar, apakah yang telah membuat kamu menangis sehingga begini sekali keadaanmu?” maka Abu Bakar r.a., pun menjawab: “Kalian semua tidak tahu tentang musibah yang menimpa kamu, tidakkah kalian tahu bahwa apabila sesuatu perkara itu telah sempurna menunjukkan bahwa perpisahan kita dengan Rasulullah Saw telah dekat. Hasan dan Husein menjadi Yatim karena dan para isteri nabi menjadi janda?”

Maka sadarlah mereka akan kebenaran kata-kata Abu Bakar r.a., lalu mereka menangis. Tangisan mereka didengar oleh para sahabat yang lain, maka mereka pun terus memberitahu Rasulullah Saw: “Ya Rasulullah, kami baru kembali dari rumah Abu Bakar dan kami mendapati banyak orang menangis dengan suara yang kuat di hadapan rumah beliau.” Ketika Rasul mendengar keterangan itu, maka berubahlah muka Rasulullah Saw dan bergegas menuju ke rumah Abu Bakar r.a.

Sesampainya di rumah Abu Bakar maka beliau bertanya: “Wahai para sahabatku, mengapa kamu semua menangis?” Kemudian Ali r.a., berkata: “Ya Rasulullah, Abu Bakar mengatakan dengan turunnya ayat ini mebawa tanda bahwa waktu wafatmu telah dekat. Benarkah ini ya Rasulullah?” Lalu Rasul menjawab: “Semua yang dikatakan oleh Abu Bakar adalah benar, dan sesungguhnya masa aku untuk aku meninggalkan kamu semua hampir dekat.”

Mendengar pengakuan itu, Abu Bakar r.a., kian menangis sekuat tenaganya sehingga ia jatuh pingsan, sementara Ali r.a., pula gemetar seluruh tubuhnya. Dan para sahabat yang lain menangis dengan sekuat-kuatnya yang mereka mampu.

Begitulah pemimpin yang sangat dicintai umat dan para sahabatnya sehingga ketika mengetahui ajal Rasul sudah dekat menangislah semua sahabat. Ketika ajal Rasulullah Saw hampir dekat maka beliau pun memanggil para sahabat ke rumah Siti Aisyah r.a.

Sahabat berkata: “Ya Rasul Anda adalah seorang Rasul yang diutus kepada kami dan untuk semua. Apabila anda sudah tiada nanti kepada siapakah kami tanya setiap persoalan?” Rasul menjawab: “Dengarlah para sahabatku, aku tinggalkan kepada kamu semua jalan yang benar dan jalan yang terang, dan telah aku tinggalkan kepada kamu semua dua pensehat yang satu pandai bicara dan yang satu diam. Yang pandai bicara adalah Al-Qur’an dan yang diam itu ialah maut. Apabila ada sesuatu persoalan yang rumit di antara kamu, maka hendaklah kamu semua kembali kepada Al-Qur’an dan Hadits-ku dan apabila hati kamu keras maka lembutkan dia dengan mengambil pelajaran dari mati.”

Dalam riwayat lain, detik-detik menjelang wafat beliau, dari Anas bin Malik r.a., berkata: “Ketika roh Rasulullah Saw telah sampai di dada, beliau bersabda: “Aku wasiatkan kepada kamu agar kamu semua menjaga shalat dan apa-apa yang diperintahkan ke atasmu.” Ali r.a., berkata: “Sesungguhnya Rasulullah ketika menjelang saat-saat terakhir, telah menggerakkan kedua bibir beliau sebanyak dua kali, dan saya meletakkan telinga, saya dengar Rasulullah Saw berkata: “umatku, umatku, umatku.”

Rasulullah sangat mencintai kita sebagai umatnya sehingga detik-detik terakhir menjelang wafat beliau berkata, ummati, ummati sampai tiga kali, bukan keluarga beliau ataupun isteri-isteri beliau.
Sumber: Bening Media Komunikasi Baznas

Make a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

One Response to “Petikan Kisah Wahyu Terakhir Perpisahan Dengan Manusia Agung”

RSS Feed for Selalu Berbagi di setiap waktu…..for DEWASA Comments RSS Feed

Hmm. Is it true?🙂


Where's The Comment Form?

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d bloggers like this: