Tiga Hal Yang Paling Baik

Posted on 3 July 2009. Filed under: Ibroh |


Ibnu ‘Abbas atau Abdullah bin Abbas pernah ditanya tentang tiga hal yang paling baik menurut dia. Yaitu hari, bulan, dan amalan yang paling baik. Ketika di tanya tentang ketiga hal itu, Ibnu ‘Abbas menjawab: “Hari yang paling baik adalah hari Jum’at, sedangkan bulan yang paling baik adalah bulan Ramadhan, dan yang ketiga amalan yang paling baik adalah menjalankan shalat fardhu tepat pada waktu utamanya.”

Jawaban yang diberikan oleh Ibnu ‘Abbas ini sampai ke telinga Ali bin Abi Thalib Karramahullaahu Wajhah. Lantas ‘Ali Karramahullaahu Wajhah berkata, memang jika para ulama, hukama, atau fuqaha di mana saja berada jika ditanya tentang ketiga hal tersebut, mereka akan menjawab seperti apa yang dijawab oleh Ibnu ‘Abbas. Sedangkan aku memiliki jawaban yang berbeda dari pertanyaan tersebut, aku akan menjawab:

Pertama, amal yang paling baik adalah amal yang diterima oleh Allah SwT.

Kedua, bulan yang paling baik adalah bulan yang di dalamnya engkau bertobat kepada Allah dengan tobat nashuha.

Ketiga, sebaik-baik hari adalah saat engkau pergi meninggalkan dunia dan kembali kepada Allah dalam keadaan beriman kepada-Nya.

Jika kita renungkan jawaban Sayyidina Ali bin Abi Thalib ini memang tepat dengan realita yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari saat ini. Jawaban yang pertama, amal yang paling baik adalah amal yang diterima oleh Allah SwT. Jika kita sudah bersusah payah melakukan amal perbuatan tetapi kemudian amal itu tidak diterima Allah SwT, maka amal tersebut menjadi amal yang sia-sia.

Jawaban yang kedua memang betul bulan yang paling baik adalah bulan Ramadhan, karena dalam bulan ini cucuran rahmat yang Allah SwT berikan kepada hamba-Nya yang melaksanakan amal shalih tidak terhingga jumlahnya. Tetapi banyak juga saudara kita yang masih enggan melaksanakan puasa ramadhan serta amalan yang shalih dalam bulan Ramadhan ini. Maksiat terus dijalankan, meskipun Allah SwT sudah menyiapkan ganjaran pahala dan rahmat yang sangat besar. Malahan banyak yang meninggal secara tragis dalam keadaan bermaksiat kepada Allah SwT pada bulan ini.

maka dari itu, Sayyidina Ali memberikan jawaban bulan yang paling baik adalah bulan di mana orang bertobat dengan tobat nashuha, yaitu hatinya menyesali dosa yang pernah dilakukan, lisannya memohon ampunan Allah SwT, serta raganya berhenti dari segala macam perbuatan dosa dan berjanji tidak akan melakukan lagi kemaksiatan yang dilarang oleh Allah SwT baik dalam keadaan sendiri maupun dalam keadaan bersama dengan orang lain.

Dan jawaban ketiga Sayyidina Ali r.a., bahwa sebaik-baik hari adalah saat engkau pergi meninggalkan dunia yang fana ini dan kembali kepada Allah SwT dalam keadaan beriman kepada-Nya atau meninggalnya dalam keadaan khusnul khatimah.

Tanda-tanda meninggal dalam keadaan khusnul khatimah, seperti meninggal dengan mengucapkan kalimat syahadat. Rasulullah Saw bersabda:

“Barangsiapa yang pada akhir kalimatnya mengucapkan La ilaaha illallaah maka ia dimasukkan ke dalam surga” (HR. Hakim).

Meninggal dalam berjaga-jaga (waspada) dijalan Allah. Rasulullah Saw bersabda:

“Berjaga-jaga (waspada) dijalan Allah sehari semalam adalah lebih baik daripada berpuasa selama sebulan dengan mendirikan (shalat) pada malam harinya. Apabila ia mati, maka mengalirkan pahala amalannya yang dahulu dilakukannya dan juga rezekinya serta aman dari siksa kubur (fitnah kubur)” (HR. Imam Muslim, an-Nasa’i, Tirmidzi, Hakim dan Ahmad)

“setiap orang yang meninggal akan disudahi amalannya kecuali orang yang mati dalam berjaga-jaga dijalan Alllah, maka amalannya dikembangkan hingga tiba hari kiamat nanti serta terjaga dari fitnah kubur” (HR. Abu Daud, Tirmidzi, Hakim, dan Ahmad).

Jawaban yang disampaikan oleh Ibnu Abbas dan Syyidina Ali bin Abi Thalib keduanya benar, karena keduanya bersandar kepada Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah Saw.
Mudah-mudahan ini dapat menjadi renungan kita hari ini untuk terus beribadah, beramal shalih, dan menjaga keimanan kepada Allah SwT. Karena kita tidak tahu kapan kedatangan malaikat Izrail untuk mencabut nyawa kita. Wallaahu a’lam. (Zarkasih)

Make a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d bloggers like this: