Kitab ”Petunjuk Jalan” Sayyid Quthb

Posted on 2 August 2009. Filed under: Home |


Buku Petunjuk Jalan atau Ma’aalim fi Ath-Thoriq karya AsySyahid Sayyid Quthb rahimahullah merupakan buku yang mengantarkan sang penulis meraih kesyahidan di tiang gantungan rezim zalim penguasa Mesir Gamal Abdul Nasser. Beliau dihukum mati hukum gantung pada tanggal 29 Agustus 1966. Mahkamah Revolusi merujuk pada buku-buku Sayyid Quthb terutama Ma’aalim fi Ath-Thoriq, yang mendasari pernyataan seruan revolusi terhadap seluruh kedaulatan yang tidak berdasarkan Syari’at Allah. Sedangkan ideologi yang diserukan oleh Nasser merupakan Nasionalisme-Sekuler.

Petunjuk Jalan memang buku yang membangkitkan semangat penegakkan kalimat
Tauhid Pengesaan Allah, terutama dalam menegakkan Hakimiyyah Allah (Kedaulatan Allah). Prinsipnya, penulis mengajak setiap Muslim agar menegakkan kekuasaan Allah dan menolak kekuasaan siapapun selain Allah. Sebab bentuk ketaatan kepada siapapun dapat diartikan sebagai bentuk penghambaan. Sedangkan di antara misi utama datangnya Islam ialah seperti yang disabdakan Nabi shollallahu ’alaih wa sallam sebagai berikut:

فإني أدعوكم إلى عبادة الله من عبادة العباد

“Sesungguhnya aku menyeru kalian kepada penghambaan Allah ta’aala semata dan meninggalkan penghambaan sesama hamba.” (HR Al-Baihaqi 2126)

ابتعثنا الله لنخرج الناس من عبادة العباد لعبادة الله وحده

“Kami (umat Islam) diutus Allah untuk mengeluarkan manusia dari penghambaan sesama hamba untuk menghamba kepada Allah semata.”

Dalam bab kedua bukunya, Sayyid Quthb memberinya judul Thobi’ah Al-Manhaj Al-Qur’aaniy (Wujud Metode Al-Qur’an). Beliau membahas di dalamnya bentuk da’wah Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam semasa di Mekkah sebelum hijrah ke Madinah. Qur’an Makki yang turun selama tigabelas tahun di Mekkah hanya membicarakan satu persoalan, yaitu persoalan aqidah, dengan titik perhatian kepada dua hal: ketuhanan (Al-Uluhiyah) dan penghambaan (Al-’Ubudiyah) serta hubungan antara keduanya.

Berdasarkan itu, maka Sayyid Quthb menjelaskan mengapa Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam mengawali da’wahnya dengan mengibarkan bendera aqidah Laa ilaaha illA-llah padahal pilihan tersebut mengundang perlawanan dan penganiayaan kaum musyrik Mekkah. Mereka sangat faham apa konsekuensi makna kalimat tersebut. Iniliah sebagian yang ditulis Sayyid Quthb mengomentari hal ini:

Dipandang dari segi kenyataan yang ada dan menurut pandangan otak manusia yang terselubung itu, ini bukanlah .merupakan jalan yang termudah ke hati bangsa Arab. Dalam bahasa mereka, mereka telah mengenal pengertian ilah (Tuhan) dan pengertian la ilaha illa-llah. Mereka mengetahui bahwa uluhiyah (ketuhanan) itu berarti hakimiyah (penguasaan) yang tertinggi. Mereka mengerti bahwa mentauhidkan ketuhanan dan menyatukan Allah itu dengan tauhid berarti melucuti kekuasaan yang dipergunakan oleh pemuka (dukun) agama, ketua suku, pangeran dan penguasa, dan mengembalikan semuanya kepada Allah. Kekuasaan atas hati nurani, kekuasaan atas perasaan, kekuasaan atas kenyataan hidup, kekuasaan atas harta, kekuasaan atas hukum dan kekuasaan atas jiwa dan raga. Mereka mengetahui bahwa la ilaha illa-llah itu adalah suatu revolusi terhadap kekuasaan bumi yang telah merampas cirikhas ketuhanan yang pertama : revolusi terhadap situasi yang timbul atas prinsip perampasan ini; dan pemberontakan terhadap orang yang memerintah dengan hukum yang dibuatnya sendiri tanpa izin Tuhan. Orang Arab bukan tidak tahu karena mereka mengetahui bahasa mereka dengan baik dan mengetahui petunjuk yang sesungguhnya dari seruan la ilaha illa-llah apa yang dimaksud oleh seruan ini tentang situasi, kepemimpinan dan kekuasaan mereka. Karena itu me­reka telah menyambut seruan ini atau revolusi itu dengan sambutan yang amat keras itu, dan mereka perangi dengan peperangan yang belum di kenal orang sebelumnya.

Jadi, menurut penulis, bila ingin mewujudkan kembali lahirnya generasi muslim seperti para sahabat kita harus menekankan kepada pembangunan aqidah secara konsisten. Dan kegiatan ini tidak bisa diharapkan berlangsung dalam waktu singkat. Ia membutuhkan kesabaran untuk menjalankannya dalam waktu yang panjang. Para sahabat saja, di bawah bimbingan pendidik (murabbi) terbaik yi Rasulullah, memerlukan tidak kurang dari 13 tahun. Jika kualitas kita separuh para sahabat, maka kira-kira diperlukan waktu 2 x 13 tahun = 26 tahun. Kalau kualitas kita hanya sepesepuluh para sahabat, maka dibutuhkan waktu kira-kira 10 x 13 tahun = 130 tahun..!!!

Yang pasti penulis memandang bahwa inilah jalan sekaligus metode satu-satunya penegakkan Islam untuk melahirkan generasi pertama. Dan ini pulalah jalan sekaligus metode untuk mewujudkan Islam di tempat dan zaman kapanpun. Perhatikan tulisannya di bawah ini:

Inilah wujud (nature) agama ini, sebagaimana disarikan dari metode Quran Makki. Kita harus mengetahui wujudnya ini. Kita jangan mencoba merobahnya hanya untuk memenuhi keinginan sesaat yang kalah di depan bentuk-bentuk teori-teori manusia. Dengan bentuknya yang seperti ini, ia telah membentuk ummat Islam yang pertama. Dan dengan cara yang begitu pulalah ia akan membentuk ummat Islam setiap kali ia ingin untuk mengulang mengeluarkan ummat Islam sekali lagi ke alam nyata, sebagaimana Allah telah mengeluarkannya pertama kali.

Ihsan tanjung

Make a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d bloggers like this: