akikah setelah dewasa

Posted on 14 September 2010. Filed under: Fiqh |


Ada sebagian orang yang belum sempat diakikah oleh orangtuanya ketika dia
lahir. Itu bisa jadi karena ketidaktahuan atau bisa pula ketidakmampuan
orangtua. Lalu, ketika sudah dewasa dan mampu untuk melaksanakan akikah,
bolehkah melakukannya sebagai penebus akikah di waktu kecil?

Masalah ini menjadi perbedaan pendapat di kalangan ulama. Sebelum menjawab
pertanyaan ini harus dipahami dahulu bahwa akikah itu merupakan tanggung
jawab siapa?

Sebagian ulama mengatakan dia adalah tanggung jawab ayah. Sebagian lagi
mengatakan dia adalah tanggung jawab wali. Sebagian lagi mengatakan dia
adalah tanggung jawab anak.

Syekh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin memberi kesimpulan bahwa yang
bertanggung jawab dalam pelaksanaan akikah adalah ayah, tapi bila si ayah
tidak melaksanakannya dengan alasan apapun maka si anak bisa saja
melaksanakan akikah untuk dirinya sendiri ketika sudah dewasa tapi dengan
niat mewakili atau menggantikan ayahnya yang dulu belum sempat
mengakikahkan. (Mudzakkiratu Fiqh, Al-Utsaimin, Dar Al-Bashirah, juz 2 hal.
237).

Berdasarkan hadits, Samurah bin Jundub, Rasulullah SAW bersabda, “Setiap
anak yang lahir akan tertanggung oleh akikahnya.” (HR. At-Tirmidzi, Abu
Daud, Ibnu Majah, An-Nasa`i dan Ahmad).

Artinya, kalau dia masih tertanggung atau terhutang sampai melaksanakan
akikah untuk dirinya, maka tak ada salahnya akikah itu dilaksanakan
menggunakan harta si anak itu sendiri. Wallahu a’lam.

Kembali ke permasalah di atas ada dua pendapat:

Madzhab pertama: Boleh saja orang yang sudah dewasa melaksanakan akikah
untuk dirinya sendiri. Ini adalah pendapat ‘Atha`, Al-Hasan Al-Bashri dan
Muhammad bin Sirin dari kalangan tabi’in. Sedang para ulama madzhab yang
mendukung pendapat ini adalah sebagian ulama madzhab Hanbali dan sebagian
Syafi’iyyah.

Pendapat kedua: Tidak boleh melakukan itu, karena bukan sunnah. Ini adalah
pendapat madzhab Maliki Dalil-dalil:

Dalil yang membolehkan adalah hadits dari Anas RA bahwa Rasulullah SAW
meng-akikah-kan dirinya sendiri setelah menjadi Nabi. Shahihkah riwayat ini?
Para ulama berbeda pendapat tentang keabsahan riwayat Anas ini. Ada yang
menganggap dha’if, seperti Al-Baihaqi dalam As-Sunan Al-Kubra, An-Nawawi
dalam Al-Majmu` syarh Al-Muhadzdzab, bahkan beliau mengatakan hadits ini
batil. Demikian halnya Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam At-Talkhish
Al-Habir.

Ada pula yang menganggapnya shahih seperti Syaikh Muhammad Nashiruddin
Al-Albani dalam As-ilsilah Ash-Shahihah hadits nomor 2726. Beliau
menjelaskan panjang lebar perbedaan para ulama mengenai hadits ini dan
beliau berkesimpulan hadits ini shahih.

Hadits ini punya dua jalur dari Anas bin Malik: Jalur pertama: Abdurrazzaq
dalam Mushannafnya (juz 4, hal. 329, no. 7960) berkata, “Dari Abdullah bin
Muharrar, dari Qatadah, dari Anas, bahwa Rasulullah SAW mengakikahkan
dirinya ketika beliau telah diangkat menjadi Nabi.” Jalur ini lemah sekali,
karena Abdullah bin Muharrar telah disepakati kelemahannya. Jalur kedua:
Ath-Thahawi berkata, “Al-Hasan bin Abdullah bin Manshur Al-Balisi
menceritakan kepada kami, katanya, Al-Haitsam bin Jamil menceritakan kepada
kami, katanya, Abdullah bin Al-Mutsanna bin Anas menceritakan kepada kami,
dari Tsumamah bin Anas, dari Anas bahwa Nabi saw mengakikahkan dirinya
ketika beliau sudah diangkat menjadi Nabi.” (Musykil Al-Aatsar, juz 3 hal.
46, no. 883). Al-Hasan bin Abdullah ini diperkuat oleh Al-Husain bin Nashr,
yang juga dalam riwayat Ath-Thahawi

Penguat lain adalah riwayat Ath-Thabarani dalam Al-Mu’jam Al-Awsath, dia
berkata, “Ahmad menceritakan kepada kami, katanya, Al-Haitsam menceritakan
kepada kami, katanya, Abdullah menceritakan kepada kami, dari Tsumamah, dari
Anas, bahwa Nabi saw mengakikahkan dirinya setelah diutus menjadi Nabi.”
(Al-Mu’jam Al-Awsath, no. 1006). Al-Haitsami dalam Majma’ Az-Zawa`id

mengomentari riwayat Ath-Thabarani ini, “Perawi riwayat Ath-Thabarani ini
adalah para perawi yang dipakai dalam kitab Shahih kecuali Al-Haitsam bin
Jamil, tapi dia sendiri tsiqah. Sedangkan guru Ath-Thabarani yaitu Ahmad bin
Mas’ud Al-Khayyath Al-Maqdisi tidak terdapat dalam Al-Mizan (maksudnya kitab
Mizan Al-I’tidal karya Adz-Dzahabi).”

Maksud pernyataan Al-Haitsami diatas bahwa Ahmad bin Mas’ud tidak masuk
dalam kitab Al-Mizan karya gurunya Al-Hafizh Adz-Dzahabi, yang mana kitab
tersebut memuat

para perawi yang dha’if. Artinya, Ahmad bin Mas’ud bukan perawi yang dha’if.
Wallahu a’lam.

Jalur ketiga sebagaimana disebutkan oleh Syekh Al-Albani dalam As-Silsilah
Ash-Shahihah, no. 2726 yang

menukil dari Al-Hafizh Ibnu Hajar, bahwa ada mutabi’ bagi Abdullah bin
Muharrar yaitu Ismail bin Muslim Al-Makki, dari Qatadah, dari Anas. Ismail
ini meskipun dha’if tapi tidak parah sehingga jalurnya bisa memperkuat jalur
lain, terutama jalur Abdullah bin Mutsanna.

Abdullah bin Al-Mutsanna bin Abdullah bin Anas memang masih diragukan
kredibilitasnya, tapi Al-Bukhari sendiri memakainya dalam Shahihnya bila dia
meriwayatkan dari pamannya yaitu Tsumamah bin Abdullah bin Anas. Coba lihat
Shahih Al-Bukhari, no. 92, 93, 954 dan banyak lagi (berdasarkan penomoran
maktabah syamilah). Artinya, bila Abdullah bin Al-Mutsanna ini meriwayatkan
dari Tsumamah maka haditsnya diterima. Sebab, tidak mungkin Al-Bukhari
memasukkan jalur tersebut ke dalam shahihnya bila bermasalah. Wallahu a’lam.

Kesimpulannya hadits bahwa Nabi saw pernah mengakikahkan dirinya ketika
sudah diutus menjadi Nabi

adalah hadits yang shahih lighairih. Riwayat Abdullah bin Al-Mutsanna
sanadnya hasan lidzaatih dan diperkuat oleh riwayat Ismail bin Muslim yang
dha’if, sehingga menjadi shahih lighairih. Wallahu a’lam.

Hal ini juga difatwakan oleh para tabi’in, antara lain Muhammad bin Sirin
sebagaimana dalam riwayat Ibnu Abi Syaibah, Hafsh menceritakan kepada kami,
dari Asy’ats, dari Muhammad (Ibnu Sirin) dia berkata, “Andai kutahu bahwa
aku belum diakikahkan, niscaya aku akan mengakikahkan diriku sendiri.”
(Mushannaf Ibnu Abi Syaibah juz 5 hal. 530).

Juga difatwakan oleh Al-Hasan Al-Bashri sebagaimana riwayat Ibnu Hazm dalam
Al-Muhalla, juz 7 hal. 528 (terbitan Dar Al-Fikr) dari jalur Waki’, dari
Ar-Rabi’ bin Shubaih, dari Al-Hasan yang berkata, “Jika kamu belum
diakikahkan, maka berakikahlah meski engkau sudah jadi orang dewasa.”
Perkataan Al-Hasan ini juga dinukil oleh Al-Baghawi dalam Syarh As-Sunnah,
juz 11 hal. 264 (terbitan Al-Maktab Al-Islami, 1403 H).

Dalil yang melarang: Mereka menganggap bahwa akikah itu adalah tanggungan
orangtua, maka tak ada hubungannya dengan si anak. Bila memang belum
diakikahkan oleh orangtua maka tak ada hak si anak mengakikahkan dirinya.
Lalu mereka mengatakan bahwa hadits Rasulullah saw mengakikahkan diri
sendiri adalah hukum spesial untuk beliau. Tapi dalil ini lemah, darimana
bisa menentukan bahwa itu spesial untuk Rasulullah saw saja? Tidak ada
keterangan valid untuk itu, sehingga apapun yang dilakukan beliau saw dan
tidak ada keterangan valid bahwa itu spesial buat beliau semata, maka itu
menjadi sunnah bagi ummatnya. Wallahu a’lam.

Dalam kitab Tuhfatul Maudud bi Ahkam Al-Maulud (hal. 61 cetakan Dar Al-Kutub
Al-Ilmiyyah, 1983), Ibnu Al-Qayyim menukil dari Al-Khallal bahwa Imam Ahmad
bin Hanbal mengatakan, “kalau ada orang yang mengakikahkan dirinya ketika
dewasa maka aku tidak membencinya.”

Kesimpulannya silahkan bagi yang ingin mengakikahkan dirinya bila belum
diakikahkan di waktu kecil. Wallahu a’lam. (dari berbagai sumber)

Semoga bermanfaat🙂

http://www.rumahaqiqah.org

Make a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

3 Responses to “akikah setelah dewasa”

RSS Feed for Selalu Berbagi di setiap waktu…..for DEWASA Comments RSS Feed

[…] akikah setelah dewasa « Selalu Berbagi di setiap waktu…..for DEWASA […]

jd boleh, pak?

boleh
bu


Where's The Comment Form?

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d bloggers like this: